Munculnya informasi yang ada. Serta menurut keadaanya masih

Munculnya masyarakat yang paham akan media
merupakan salah satu dampak dari pesatnya perkembangan teknologi di zaman yang
telah mencapai era globalisasi dimana
perkembangan media menjadi semakin canggih serta memunculkan keberadaan informasi yang tak terkendali baik media tercetak maupun
elektronik. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997:2) media adalah segala
bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi.

Dengan media internet dan peran teknologi yang
semakin canggih membuat seseorang tidak perlu lagi bersusah payah untuk
berkomunikasi ataupun mencari informasi ,seluruh penggunanya dapat berinteraksi
dan mengemukakan pendapatnya dengan bebas dan mudah kepada siapapun komunikannya.
serta akses hiburan yang mudah dijangkau penggunanya dimanapun.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Mudahnya mengakses media internet yang digunakan
oleh berbagai kalangan usia seperti siswa/I SMA dengan menggunakan
kecanggihan gadget/ smartphone untuk keperluan pencarian
informasi seperti tugas,mencari bahan atau materi pelajaran, mencari informasi
terkini bahkan hiburan yang mereka butuhkan.

Kemudahan dalam mengakses informasi membuat
keberadaan jumlah informasi semakin tak terhitung banyaknya beredar di media
massa maupun media baru, dari bentuk informasi yang benar adanya maupun
informasi hoax (tidak benar) keberadaanya. Kemudahan yang ditawarkan dalam
mengakses media internet pun masih sangat rentan dengan keberadaan informasi yang
memberikan dampak pada kerugian ataupun dampak negatif bagi pihak lain.

Pengguna media internet yang objeknya merupakan
siswa/siswi SMA sendiri dapat dengan bebas menggunakan informasi dari manapun untuk
memenuhi kebutuhannya, namun banyaknya fenomena dimana dengan kemudahan mengakses internet tersebut tidak diikuti dengan sikap literate akan media
internet. Siswa/I SMA pun akan dengan
mudah mengambil sumber informasi dimanapun website yang mereka temukan dan
tidak memperhatikan ke validan informasi yang ada. Serta menurut keadaanya masih banyak ditemukan sekolah yang belum menerapkan
siswa/I nya bagaimana cara mencari informasi yang baik dan
berliterate sehingga dengan keadaan seperti ini memunculkan dampak negatif yaitu budaya plagiarism dan sikap tidak
dapat membedakan informasi ketika mereka menerima berita-berita palsu atau yang
yang akrab kita kenal dengan sebutan hoax, yang semakin
kian tak terkendali.

Tidak literate terhadap informasi yang dibawa
media menimbulkan berbagai permasalahan. Bagi anak-anak, tidak melek media
mengakibatkan mulai dari kecanduan menonton tayangan televisi, bermain games
online, chatting melalui social media, konten pornografi internet, infotainment,
hingga berita kriminal. Anak-anak cenderung menginternalisasi pesan-pesan media
dan mengintegrasikannya dalam pembentukan diri (Herlina, 2011, p. 24-27). Bagi
remaja, tidak literate dengan media mengakibatkan perilaku konsumtif (terhadap
pulsa internet), konten sinetron, musik, dan reality show. Remaja
menganggap bahwa citra yang muncul di televisi adalah sesuatu hal yang nyata,
sehingga mereka mencitrakan diri sebagai tokoh-tokoh sinetron dan penyanyi,
mulai dari gaya berpakaian, potongan rambut, hingga perilaku sehari-hari
(Suprati, 2011, p. 102).

Untuk mengetahui pentingnya literasi dalam bermedia
perlu diketahui lebih lanjut pula pengertian literasi informasi sendiri yaitu menurut
American Library Association (ALA) dalam (Zuntriana, Ari. 2007) “information
literacy is a set of abilities requiring individuals to recognize when
information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use
effective needed information”. Artinya, literasi informasi diartikan sebagai
kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya,
mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi informasi, dan menggunakan
informasi seara efektif dan etis. Sedangkan literasi media sendiri memiliki
arti yang menurut National Leardship Conference on Media Literacy dalam
(McKenzie,Pamela J.2002), Media Literacy adalah kemampuan
warga Negara untuk mengakses, menganalisa, dan memproduksi informasi untuk
hasil yang spesifik. Media mampu menyuntikkan nilai-nilai yang mampu mengubah
pandangan, dan bahkan sikap hidup secara missal. 

Dengan pengertian diatas mengenai apa itu literasi
informasi maupun literasi media maka dapat kita ketahui lebih lanjut bahwa
pentingnya literasi dalam penggunaan media internet agar dengan adanya
kehebatan media internet namun telah didukung dengan karakteristik masyarakat
yang sudah berliterate atau sudah mampu
menganalisa,menyaring,serta mengevaluasi keberadaan informasi yang
bertujuan pada dampak penggunaan media sosial yang positif dan tidak merugikan
pihak manapun.

Dengan adanya pengertian tersebut, tulisan ini
mencoba menganalisis bagaimana penerapan literasi media terhadap penggunaan internet
dikalangan siswa SMA. Dimana melihat perkembangan dunia komunikasi media internet
yang sudah banyak digunakan khususnya pada siswa/I di banyak SMA. Melihat
banyaknya siswa/I SMA yang telah memiliki smartphone. Dan sifat masyarakat yang
masih buta terhadap sikap melek informasi .Selain itu menyebabkan dampak
penggunaan media internet terhadap pengguna yang dapat menilai fenomena kabar
bohong (hoax) terjadi karena rendahnya literasi terhadap media. Masyarakat
pengguna teknologi digital kurang memahami landskap (tata ruang) dunia
internet.

Selain literasi media masyarakat juga harus
diberikan edukasi mengenai berbagai sanksi dan regulasi terhadap penggunaan
internet untuk menciptakan masyarakat yang bertanggung jawab dalam penggunaan
internet sedini mungkin .

Selain itu tujuan literasi media juga untuk
menghasilkan publik atau masyarakat yang “well informed” serta dapat
membuat penilaian terhadap kontent media berdasarkan pengetahuan dan pemahaman
mereka terhadap media yang bersangkutan (Eadie,2009:564)

Terutama lagi mengingat adanya peraturan mengenai
undang-undang informasi dan transaksi elektronik yang telah mengalami revisi
pada RUU Perubahan UU ITE yang telah disahkan menjadi UU Nomor 19 Tahun 2016.
Yang membahas tentang Perubahan Atas UU ITE dimana dapat memberikan
kepastian hukum bagi masyarakat, sehingga mereka dapat lebih cerdas dan
beretika dalam menggunakan Internet. Agar dengan adanya
konten berunsur SARA, radikalisme, dan pornografi dapat diminimalisir. Dengan
keluarnya undang-undang informasi dan transaksi elektronik maka pentingnya
memperhatikan segala bentuk penggunaan media internet apapun karena sudah ada
peraturan yang dapat memberikan sanksi kepada penggunanya sendiri dalam segala
bentuk kegiatannya. Yang menyadarkan bahwa  siapapun penggunanya seharusnya sudah
berliterate dalam menggunakan media internet.

Jika dilihat dari berbagai pembahasan diatas
dapat kita sadari bagaimana tingkatan literasi media dapat mempengaruhi
bagaimana seseorang dapat memilih informasi yang benar dan tidak dengan
mudahnya menerima informasi secara asal atau dapat diartikan tidak dengan
memperhatikan  kebenaran adanya isi
informasi yang ada dimedia dan juga sumber yang mereka dapatkan. 

Oleh sebab itu dalam penulisan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai bagaimana adanya tingkatan kemampuan literasi media tentang informasi hoax dikalangan
siswa SMA.